Arti Kebahagiaan

29 Des

ARTI KEBAHAGIAAN

 

 

Kehidupan yang bahagia adalah keinginan setiap orang, begitu juga dengan aku. Keluarga yang mencintaimu, sahabat, hal-hal membosankan yang kau lakukan di sekolah, bertengkar dengan saudaramu, begitukah yang kau rasakan sekarang? Bersyukurlah bila kau merasakan itu.

Hidupku berubah dimulai sejak Ayahku memutuskan untuk pindah rumah didaerah Surakarta. Aku tidak menyukai itu karena aku sudah memiliki segalanya disini, Jakarta dan Surakarta sangat jauh, aku mungkin tidak akan bisa bertemu dengan teman temanku disini lagi. Tapi tidak ada pilihan lain selain kepindahan keluarga kami, dan aku pun harus menerima hal itu. Keadaan memang tidak seburuk yang kubayangkan, tetapi tetap saja aku tidak berada di tempat diamana aku merasa hidupku sempurna. Aku menjadi anak asing disekolah baruku, anak-anak selalu berbisik jika melihatku, aku tidak terlalu memikirkan itu pada awalnya, tetapi mereka mulai menjahiliku. Menyembunyikan tasku, menghalang-halangi ketika aku berjalan, mendorongku, dan lain lain. Itukah yang mereka lakukan kepada siswa baru? Benar-benar membuatku muak.

Semua itu hanyalah awal dari hidup kelamku, inilah sebab utama yang menyebabkan keluargaku hancur, Ayahku berselingkuh dengan seorang wanita muda berumur sekitar 25 tahun, Ibuku lebih cantik, baik, dan segalannya dibandingkan dengan wanita selingkuhan Ayahku. Tetapi Ayahku lebih rela melepaskan Ibuku dan anak-anaknya dan memilih wanita itu bersama calon bayi mungilnya. Ibuku lebih sering menangis disetiap malam setelah kejadian Ayahku menjatuhkan talak satunnya. Kakakku satu-satunnya orang yang kumiliki setalah ibuku, sibuk dengan kegiatannya sendiri. Tepat pada tanggal 27 Juni 2009 Ayahku resmi bercerai dengan Ibuku. Kehidupan Ekonomi di keluarga kami pun berubah. Biaya untuk aku dan kakakku bersekolah, kebutuhan sehari-hari kami berusaha dipenuhi Ibuku membuka catering kecil-kecilan, hal menyedihkan yang terjadi di keluarga kami.

Semenjak perceraian Ayah dan Ibuku kakakku berubah semakin aneh, dia selalu berangkat sekolah jam 6 pagi dan pulang lewat jam 7 malam. Setelah pulang dari aktivitas mencurigakannya, kakakku segera bergegas ke kamar mandi dan selesai mandi dia akan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat sekarang, aku tidak mempunyai satu pun teman, Ibuku sibuk dengan pekerjaannya dan aku juga harus membantunnya karena Kakakku menghilang dengan aktivitas anehnya. Rutinas pekerjaan melelahkan berulang setiap hari dalam hidupku, bangun pagi, membantu ibuku, sekolah, membantu ibuku lagi, dan menangis di setiap malam. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti sekolah, keputusan gila yang sudah pasti akan menimbulkan perdebatan hebat.

 

“ Apa maksudmu dengan berhenti sekolah, Ros?’’ Kakakku berbicara dengan keras sambil menatap tepat dimataku.

“Aku sudah capek dengan ini, memangnya aku robot apa? Sekolah sekarang tidak ada gunannya untuk ku!” jawabku kasar.

Kakakku terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu sementara Ibuku hanya terdiam dikursinya sambil melihat aku dan kakakku bertengkar.

“Kau tidak mengerti apa yang bermanfaat untukmu dan tidak Rosa! Jika kau tidak bersekolah kau mau jadi apa? Hah?”

“Memangnya kau tau kak? Setiap hari berangkat pagi dan muncul tiba-tiba tanpa bicara dan setelah itu masuk kamar. Apakah itu yang hal yang bermanfaat? Aku akan mengkutinya kalau begitu.” Jawabku dengan cepat sambil berjalan kearahnya.

Ibuku beranjak dari tempat duduknya dan berdiri diantara aku dan kakakku.

“kau tidak tahu apa yang kau katakan Rosa.” Jawabnya lirih sambil menunjukku dengan telunjuknya.

Ibuku menghela nafas dan berbiacara dengan lembut.

“Rosa, Rio sudahlah. Rosa kau harus memikirkan hal itu dulu sayang, sekolah bukanlah hal sepele, tapi semua keputusan ada di tanganmu. Dan Rio kau harus menjaga adikmu dan bijaksanalah karena kau menggantikan peran Ayah sekarang. Ibu tahu hal ini sangat sulit bagi kalian, kalian adalah anak remaja yang harusnya menikmati masa-masa remaja. Tapi Ibu membuat kalian tidak bisa merasakannya, jika ada orang yang disalahkan dalam semua ini, itu Ibu.”

“Tidak, Ibu tidak salah.” Jawabku bersamaan dengan kakakku.

Kakakku tersenyum kearahku dan memeluk Ibuku erat.

“Tidak ada yang salah bu, semua sudah diatur oleh Tuhan, kita hanya harus berusaha melewati ini.”

“Ada yang salah kok, si Pria yang tidak bertanggung jawab. Tapi sudahlah aku tidak mau membahasnya.” Kataku sembari memeluk Ibuku juga.

“Anak nakal.”  Kakak ku mengejek sambil mengacak pelan rambutku.

Hari ini kehangatan kembai hadir di tengah tengah keluarga kami, tapi ini tidak akan menyeselesaikan kepedihan hidupku. Waktu akan terus bergulir dan aku harus melewatinnya.

***

 

 

Aku bermimpi hal yang paling indah yang masih bisa kukenang. Hari ulang tahunku yang ke 12, Ibuku membuatkan kue ulang tahun berwarna biru cerah dan Ayahku memberikan kado yang berukuran besar. Ayahku meletakkan kado itu di depanku kemudian memelukku erat sambil menggoyang-nggoyang badanku pelan. Seteah itu Kakakku memberikan kejutan dengan melempari ku dengan sekantong tepung, dan kami tertawa bersama-sama. Aku ingin menikmati mimpi ini, sampai Kakakku masuk kamarku dan menjatuhkan bantal di mukaku.

“Bangun anak malas.” Ucapnya dengan keras tepat ditelingaku.

Aku menngambil bantal diatas mukaku kemudian melemparkan bantal itu ke Kakakku.

“Aku tidak mau sekolah hari ini, refreshing sepertinya kubutuhkan. Aku janji akan berangkat sekolah besok. Boleh kan?” Ucapku sambil memasang senyum paling manis diwajahku.

Kakak  memandangku sambil mengerutkan dahi seperti sedang berpikir keras. Kemudian dia tersenyum lebar dan menyeretku ke kamar mandi.

“Oke, hari ini kita akan bersenang-senang. Dan sekarang mandilah, kutunggu di depan rumah Rosa sweety.” Kata kakakku dengan nada gembira

***.

 

Kakakku mengajakku ke Solo Grand Mall, sepanjang perjalanan Kakak berbicara hal-hal aneh seperti yang sering dilakukannya dulu dan itu membuatku sangat senang.

“Aku mau nonton Harry Potter and the half blood prince. Ketinggalan banget kalau nggak nonton kak, mau ya?’’

Kakakku tersenyum dan berkata.

“Okey, sweety. Hari ini kita nonton dan bersenang-senang, gratis deh.”

Hari itu kulewati dengan dengan melakukan hal-hal yang sudah lama tidak kulakukan dengan kakakku. Mengantre tiket bioskop, berebut pop corn, membeli es cream dan menceritakan teman-teman kami disekolah sambil tertawa keras bersama. Aku berharap hari seperti ini akan terjadi lagi di hidupku untuk melupakan sebentar kesedihan yang aku rasakan akhir-akhir ini. Sejenak aku teringat dengan Ibuku, sekarang beliau pasti sedang sibuk dengan pesanan kuenya dan aku merasa bersalah karena tidak membantunya.

“Kasihan Ibu, kita bersenang-senang disini sementara Ibu pasti sibuk.” Ucapku pelan saat aku dan kakak sedang makan siang masih di dalam Mall.

“Ibu pasti senang kalau melihat kita senang. Percaya padaku deh.” Kata Kakak sambil tersenyum.

Aku beruntung mempunya Kakak seperti Kak Rio. Dia selalu tersenyum, memikirkan suatu masalah dengan tenang dan tidak pernah menyalahkan siapapun saat masalah hadir di hidupnya. Jika kau bertanya bagaimana hidupku sekarang akan kujawab bahwa hidupku adalah kisah hidup anak berumur 13 tahun yang tragis dan menyedihkan. Tetapi jika kau bertanya kepada Kakak bagaimana hidupnya aku yakin dia akan menjawab ‘hidup adalah anugrah dan setiap orang hidup pasti merasakan kebahagiaan, dan itu yang kurasakan karena aku dikelilingi orang yang kucintai dan mencintaiku’. Itulah yang membuatku bangga kepadannya.

“Kak, kayaknya hari ini kurang asyik. Ada ide?”

“Aku yakin Ros, kau akan suka yang ini.” Kakakku tersenyum lebar kemudian menunjuk seorang pria yang duduk bersama wanita muda yang sedang hamil. Dan Pria itu ternyata Ayahku.

“Suka? Melihatnya membuatku jijik, kak.” Kataku dengan nada marah.

“Lihat  ini.” Dia tersenyum sambil melepas sepatunya dan dengan cepat melemparkan sepatunya kearah Ayahku.

Aku terkejut hingga tidak mampu berkata apa-apa, apa yang dilakukan Kakakku bisa membuat masalah besar. Kemudian aku memfokuskan pandangan kepada Ayah. Ayah berdiri dan berjalan mendekat ke arah kami.

“Ayo lari.” Ucapku sambil menarik lengannya, tapi Kakak tidak bergeming dari tempatnya berdiri.

Ayah sekarang berdiri tepat di depan kami, wajahnya memperlihatkan kesedihan yang mendalam bukan kemarahan seperti yang kuperkirakan. Tapi setelah menatap Kakak, Ayah menampar wajah Kakak dengan keras.

“Kau tidak punya malu, Rio Fernanda”

“Ayah seharusnya bertanya kepada diri Ayah sendiri.” Kata Kak Rio tegas.

Tiba-tiba telfon berdering dari saku Kak Rio dan Kakak segera mengangkatnya. Kak Rio hanya terdiam dan raut mukannya berubah menjadi sedih.

“Ayo pulang. Ibu sakit.” Kata Kakak sambil menarik lenganku.

***

Ibuku terbaring diranjang rumah sakit dengan mata terpejam, selang infus terpasang di lengan kirinnya. Aku menangis di pundak Kakakku. Rasa penyesalan membebaniku, seharusnya hari ini aku tidak pergi bersenang-senang dengan Kak Rio dan menghabiskan waktuku untuk membantu Ibu. Jika aku di rumah aku yakin penyakit jantung lemah Ibu yang tidak akan kambuh.

“Aku… aku yang salah. Seharusnya kita tidak pergi ke Mall. Aku selalu membuat Ibu sedih Kak, selalu menyusahkan Ibu dan tidak bisa membahagiakan Ibu.” Ucapku sambil terisak.

“Rosa, orang yang bahagia tidak selalu memiliki hal-hal yang membahagiakan dalam hidupnya tetapi dia mampu mengubah hal yang hadir di dalam hidupnya menjadi sesuatu yang membahagiakan. Aku yakin sebenarnya kau bisa menjaga Ibu ada dan tidak ada Kakak.” Ucap Kak Rio lirih.

“Tapi kak…”

“Sudahlah, kau pulang saja ke rumah. Bibi akan menemanimu di rumah nanti, kau janji kan Ros, besok mau berangkat sekolah. Dan kau harus menepatinnya. Besok aku jemput sepulang sekolah dan kita ke rumah sakit lagi.”

Aku menuruti perintah Kakakku. Dengan langkah pelan aku keluar dari kamar rawat Ibuku.

***

Hari ini hari yang sangat buruk. Aku terpaksa pergi ke sekolah untuk menepati janjiku. Dan sekarang kak Rio yang berjanji menjemputku tidak segera datang. Setelah menunggu selama 30 menit aku memutuskan untuk pulang naik angkutan umum.

Jalan menuju gang rumahku ditutup dan ada bendera merah kecil berwarna merah dipasang di sana. Aku bergegas menuju rumahku. Pemandangan aneh terlihat didepan rumahku. Orang-orang berpakaian hitam silih berganti memasuki rumahku. Aku berlari menerobos rombongan pelayat dan mendapati Ayahku terisak disamping jenazah yang terbaring didepannya.

“Maafkan Ayah sayang, Ayah menyesal. Ayah sangat menyayangi kalian, Kakakmu akan tenang disana.”

Aku tidak mendengarkan ucapan Ayah, dengan pelan aku membuka kain yang mentupi jenazah itu. Dan disana terbaring seorang pria dengan wajah pucat yang familier dihadapanku. Hatiku terasa sakit saat melihatnya, air mata melewati pipiku. Ini tidak mungkin terjadi, itu bukan kak Rio, tidak mungkin.

“Dimana Ibu? Dimana Kak Rio, yah?” teriakku di depan Ayah.

“Ibumu di rumah sakit sayang, Kakakmu akan tenang disana, dia anak yang baik. Maafkan Ayah.” Kata Ayah sambil memelukku.

Aku melepas pelukan Ayahku dan berlari masuk ke kamarku kemudian aku menutup pintuku dengan keras. Di ranjangku terdapat sebuah laptop denga pita kecil diatasnya dan sebuah surat. Aku mengambil surat itu dan membacanya.

 

Rosa Fernanda my sweety. Ini kejutan untukmu. Selamat Ulang Tahnu ke 13 ya.Aku senang jika kau menyukai kadoku. Kakak tahu, Rosa membutuhkan Laptop dan Kakak berusaha bisa memenuhinnya. Itulah sebab kakak berangkat pagi-pagi dan selalu pulang malam. Ingat “orang yang bahagia tidak selalu memiliki hal-hal yang membahagiakan dalam hidupnya tetapi dia mampu mengubah hal yang hadir di dalam hidupnya menjadi sesuatu yang membahagiakan”. Rosa bisa membahagikan Ibu, kakak yakin, dan satu lagi Rosa tidak boleh menyerah, Rosa harus malu sama Kakak.

***

Aku memandang pelataran rumahku pagi ini dengan persaan sedih yang berusaha kulupakan. Hari ini adalah 1 bulan sudah Kakakku meninggalkanku tapi aku tidak pernah menyesalinnya, karena ini sudah takdir. Aku harus menjaga Ibu dan aku harus bisa mengubah hal-hal yang hadir di dalam hidupku menjadi kebahagianku. Ku beri tahu satuhal, kebahagian tidak secara tiba-tiba hadir di dalam hidupmu tapi kau sendiri yang bisa menghadirkannya.

 

 

 

 

TAMAT

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: