Laut lebih Denganku Chapter 1

29 Des

 

 

 

Fanfic Percy Jackson, diceritakan dari sisi Annabeth. Kisah ini terjadi setelah buku ke 4

………………………

Aku berdiri di ruangan bundar gelap gulita. Udara kering dan panas memenuhi paru-paruku. Suara bergemuruh terdengar di belakang, aku menoleh dan baru tersadar bahwa aku sedang berada di labirin milik daedalus ‘lagi’.

“Ayolah Annabeth kau bisa, larilah!’’ suara pria yang sudah familier di telingaku berteriak, aku yakin Luke berada di luar ruangan itu.

Aku berlari menuju satu-satunya pintu keluar yang ada di ruangan bundar itu, dan mendapati bahwa pintu itu terkunci. Dengan napas terengah-engah, aku mendobrak pintu itu dengan bahuku. Suara bergemuruh terdengar lebih keras.

“Pintu ini tidak bisa dibuka, tolonglah aku, kumohon!’’ Aku berkata sambil menyiapkan belati di tangan kananku.

Luke tidak menjawab, peluh menetes di dahiku. Dengan sisa tenaga, aku mendobrak pintu lagi, tapi pintu itu tidak bergeming. Tidak ada gunanya, aku harus menhadapi apapun itu, pikirku.  Tanganku lebih erat memegang belati, dan tepat saat itu tiga Haydra masuk bersamaan. Sangat tidak mungkin menghadapi tiga Haydra seorang diri, pahlawan yang hebat sekalipun tidak bisa melakukannya.

Haydra pertama maju dengan pelan dan menjulurkan lidah ularnya secara bersamaan. Aku akan mati hari ini.

“Aku akan melindungimu’’ bisik suara luke di belakangku.

Aku berbalik ke arah suara dan mendapati Percy berdiri tegak di depanku menghunus riptide nya. Belati ku terlepas dari peganganku.

“Tap..tapi.. tadi Luke berada di luar pintu bukan kau, dan kau tak mu..mungkin berada di sini Percy, kau bukan Luke.’’

“Terserah kau Annabeth tapi ini aku.” Dia berkata pendek dan berlari menerjang Haydra.

Aku tercengang. Air mata mengalir pelan di pipiku. Dia Percy bukan Luke, dan Percy lah yang menolongku.  Luke adalah kronos sekarang. Aku membungkuk dan mengambil belatiku. Tepat saat aku berdiri, pintu keluar terbuka. Monster sipir penjara, kampe, mengamatiku dengan tajam. Dia menerjang, dan menancapkan cakarnya ke perutku.

***

Aku terbangun dari mimpi burukku. Jantungku masih berdebar kencang, aku tidak percaya bahwa aku terbangun dari mimpi. Aku melihat keadaan sekeliling dan terpampang dihadapanku adalah kamar tidurku bukan labirin deadelus. Suara telapak kaki seseorang yang tengah berjalan terdengar pelan, dan kemudian orang itu membuka pintuku.

“Annabeth, selamat pagi. Kau lupa hari ini kau ada kencan dengan percy.” Kata ayahku dengan senyum mengembang.

“Oh, please. Ayah, Percy adalah sahabatku tidak lebih.”

Aku mengusapkan telapak tanganku ke permukaan wajahku, dan peluh terasa lengket di wajahku. Aku kemudian beranjak dari tempat tidur menuju ke kaca yang menempel di dinding kamarku. Disana terlihat wajah ku yang terlihat kusam dengan keringat yang bercucuran dan rambut pirang acak-acakan, sangat mirip dengan gelandangan. Aku menghembuskan nafas kemudian merebahkan kembali tubuhku ke ranjang.

“Annabeth, kau mimpi buruk lagi? Apakah kau baik-baik saja? Emm.. ya ampun apakah kau diserang oleh monster semalam dan kau tidak berteriak sehingga ayah tidak tahu?” kata ayahku cepat tanpa jeda sambil mengamatiku dengan cermat.

“Ayah aku hanya mimpi buruk, aku baik-baik saja. Rumah kita di dekat gunung pupus harapan jadi bukan suatu hal yang spectacular jika aku mimpi buruk, tenanglah yah.” Kataku lembut.

Kemudian aku beranjak dari tempat tidur untuk mandi dan bersiap-siap menuju perkemahan dan bertemu Percy, emm.. Maksudku aku akan bertemu teman-teman yang lain, Chiron, dan saudara-saudaraku di kabin Athena.

***

Aku menyusuri selat Long Island yang membentang menuju ke bukit blasteran dengan mobil bersama ayahku yang nekat mengatarku sampai disini. Ku rasa mood para monster sedang buruk sehingga kami berdua ‘hanya’ diserang 1 monster selama perjalan dari San Fransisco dan. Ayahku membuka sedikit jendela mobil sehingga aku bisa merasakan hembusan angin laut. Aku menatap selat Long Island dan rasa tenang menyusup di dadaku, aku berda di sini lagi. Perkemahan Blasteran adalah segalanya bagiku. Jika kau tanya seberapa pentingnya perkemahan balasteran? Akan kujawab itu seperti Jantungku sendiri, oh tidak itu terlalu dramatis sepertinya. Mungkin itu ibarat jika kau mempunyai benda yang kau impikan sejak berumur 2 tahun dan barang itu limitid edtion, sehingga sangat sulit menemukannya, ya kurang lebih seperti itu.

Saat aku sedang sibuk dengan fikiranku sendiri, ayahku berteriak mengerikan sambil mengerem mobil mendadak.

“Ayah, ada ap- “

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, sesuatu di depan mobil menggeram dan menghantam mobil ayah hingga membuat kap depan nya penyok. Ayahku masih dalam posisi terkejutnya, mencengkeram setir mobil dengan mulut setengah terbuka, dan mata melotot. Aku merogoh sakuku untuk menemukan topi bisbol New York Yankess pemberian Ibu kemudian aku menyeret ayah untuk keluar dari mobil.

“Dengar, selamatkan diri ayah, aku akan berusaha mengalihkan perhatiannya.” Kataku dengan cepat

“Tapi…”

“Kumohon ayah, ini yang terbaik.” Teriak ku sambil  berlari ke arah moster itu.

Monster itu setinggi kira-kira 2 meter. Tubuhnya seperti macan, tapi monster itu memiliki ekor serupa tikus, bergeri tajam serta berwarna merah, dan sepasang mata merah menonjol yang terlihat akan keluar dari rongganya.

“Hi- yaaaaah”

Aku berlari ke arah monster itu sambil menggunakan topi yankess ku dan menancapkan belati ke tengkuknya. Monster itu menggeram mengerikan dan menghentakan kakinya hingga nyaris menginjakku. Aku berlari ke belakang monster itu dan mengeluarkan belati lain, lalu melemparkan belati itu ke punggungnya. Selama sedetik aku lupa bahwa monster macan-tikus itu memiliki ekor bergerigi. Dua detik setelah aku melemparkan belatiku moster itu menggerakan ekornya hingga membuatku terlempar. Aku mendarat dengan kepalaku menghantam sesuatu yang keras mungkin batu atau mungkin kayu? Bayangkan sesuatu yang keras saja. Aku membuka mataku dan rasa pusing yang tak terbayangkan terasa dikepalaku, kemudian aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

***

Aku terbaring di ruangan bundar gelap gulita itu lagi, kepalaku masih terasa berdenyut denyut. Batu pualam tempatku berbaring terasa menusuk ditubuhku. Aku berdiri pelan dan di pintu keluar berdiri seorang pria, dia berdiri tegap dengan rambut cepak sewarna pasir, dia menoleh dan menyunggingkan senyum jahilnya.

“Dimana kita? Bagaimana kita keluar dari sini?” ucapku panik

Luke menatapku dengan sorot mata khasnya.

“Emmm yahh, aku yakin kita akan bisa keluar dari sini.”

Aku tersenyum melihatnya kembali seperti dulu, aku memeluk badannya erat.

“Thanks Luke.” Ucapku lembut.

Luke memelukku dengan satu tangannya. Tiba-tiba suara gemuruh terdengar, dan Percy keluar dari pintu di dan menatapku dengan ekspresi terkejutnya. Detik berikutnya Luke mengeluarkan backbiter nya dan memegangnya tepat dibelakang leherku. Dengan pelan luke mendekatkan backtiber ke leherku, aku bisa merasakan pedang mengerikan itu menyentuh leherku sekarang.

“Percy……”

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: